Magna vis Fidelitatis

Vito.id–Sebuah salib berdiri tegak di puncak bukit Laktutus, sebuah daerah di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Negara Rakyat Demokratik Timor Leste (RDTL).

Salib itu berdiameter 17 centi meter dengan panjang 12,50 meter, dan terbuat dari kayu cemara. Salib di perbatasan ini didirikan oleh umat Paroki Laktutus, Keuskupan Atambua saat prosesi salib dalam memperingati misteri sengsara dan wafat Tuhan Yesus atau Paskah bulan Maret lalu.

Meski berbeda negara, terdapat kesamaan budaya dan agama antara umat di Paroki Laktutus dengan umat Timor Leste yang berada di perbatasan. Selain itu, mereka juga masih memiliki hubungan keluarga sehingga mobilitas diantara mereka sering terjadi.

Sebagian besar umat Paroki Laktutus adalah petani dan penghasilannya terbilang minim. Oleh karena itu, secara ekonomi, kehidupan umatnya cukup memprihatinkan.

Sebagaimana potret wilayah perbatasan Indonesia di wilayah Timur pada umumnya, roda pembangunan cukup tertinggal jauh dengan daerah perbatasan di negara tetangga tersebut. Secara sosial, mereka juga masih membutuhkan berbagai bentuk perhatian baik dari pemerintah maupun swasta.

Pastor Paroki Laktutus, Yohanes Kristo Tara, OFM menegaskan bahwa, salib perbatasan RI-RDTL sesungguhnya hendak menjawab sebuah kerinduan umat Katolik Laktutus yang berada persis di daerah perbatasan dengan Timor Leste.

“Salib ini menjadi semacam icon iman umat yang selama ini merindukan keselamatan dan pembebasan dari berbagai keterbelakangan sosial-ekonomi. Spirit yang mau ditanamkan adalah transformasi yang mecakup dua hal: pertobatan pribadi dan transformasi sosial. Bertobat dari berbagai segala bentuk kejahatan,” kata Kristo kepada Vito.id belum lama ini.

Dengan memandang salib perbatasan, lanjut Pastor Kristo, umat diharapkan dapat memperbaiki relasi pribadi dengan Allah, sesama, dan alam ciptaan. Transformasi sosial yang diharapkan ialah terjadinya pembaharuan dalam kehidupan setiap hari. Salib dapat menjadi spirit pengobatan sosial untuk umat Laktutus dan juga untuk warga Timor Leste yang berada di perbatasan.

“Pertobataan sosial ini penting untuk memutus rantai kejahatan. Salib perbatasan dapat mendorong umat untuk melakukan perbagai perubahan untuk melawan kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai penyakit sosial lainnya,” ujarnya.

Pastor Kristo mengatakan, secara simbolis salib perbasatan RI-RDTL adalah salib yang menyerukan kepada semua pihak yang berwenang untuk datang dan memperhatikan kondisi riil warga perbatasan khususnya warga/umat di Paroki Laktutus. Letaknya yang diketinggian sesunggguhnya mau mengajak banyak orang untuk datang ke Laktutus dan melihat dari dekat kehidupan umat di Laktutus.

“Umat Laktutus membutuhkan perhatian dalam kehidupan sosial-ekonomi,” katanya.

Oleh karena itu, kata Pastor Kristo, salib perbatasan juga menceriterakan tentang penderitaan dan pencarian jalan menuju pembebasan. Dengan adanya salib ini, penderitaan umat Laktutus dikumandangakan dan serentak pada saat yang sama mengundang banyak orang untuk membebaskan.

“Proses pembebasan dari belenggu kemiskinan secara sosial dan ekonomi membutuhkan banyak pihak. Selain atas usaha personal, pembebasan juga membutuhkan pihak lain antara lain pemerintah, gereja sebagai institusi, dan berbagai stakeholder yang memiliki kepedulian untuk menyejahterakan masyarakat,” tegas Pastor Kristo.

Lebih lanjut dia mengatakan, sebagaimana Kristus disalibkan untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa dan menghantarnya kepada keselamatan, salib perbatasan juga demikian. Kata Pastor Kristo, salib ini hadir sebagai sarana yang meghantar umat Laktutus dan Tmor Leste khususnya yang berada di perbatasan untuk keluar dari keterbelakangan.

“Seruan melalui salib perbatasan adalah seruan profetis yang pada akhirnya membutuhkan tanggapan atau jawaban dari berbagai pihak. Sampai pada titik ini, salib perbatasan mengandung nilai keberpihakan kepada warga/umat yang membutuhkan pembebasan dari berbagai keterbelakangan. Dan karena itu salib perbatasan sesunggguhnya mengandung makna politis,” pungkasnya. (Egi Tantono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *