Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Penyerangan tiga lokasi berbeda di Jawa Timur kemarin melibatkan anak-anak. Tubuh mereka dipasang bom kemudian meledakan diri di antara kerumunan umat dan di kantor polisi.

Ternyata kitab Mazmur membahas perilaku ‘berhala’ yang dilakukan orang tua kepada anaknya. Mereka menumpahkan darah anak-anak mereka yang tak bersalah seolah-olah itu adalah suatu perbuatan yang benar.

Mazmur 106: 37-38 berbunyi demikian:

Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah.

Konteks ayat ini menggambarkan suasana berhala di zaman Perjanjian Lama. Orang yang menyembah berhala dalam zaman PL sebenarnya berhadapan dengan roh jahat, karena di balik semua agama palsu terdapat manifestasi, kuasa, dan pengaruh roh jahat

Dewasa ini ada orang tanpa sadar mengorbankan anak-anaknya kepada roh jahat dengan membiarkan mereka dipengaruhi oleh kefasikan dan kebejatan dunia ini melalui media hiburan, teman-teman yang tidak percaya atau pengarahan yang bertentangan dengan kebenaran alkitabiah.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Reza Indragiri mengatakan anak-anak yang dilibatkan dalam ayahnya dalam serangan di Surabaya merupakan korban. Mereka, kata Reza adalah pribadi-pribadi yang haknya dirampas.

Pernyatan Reza merujuk Pasal 76c Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang melarang siapa pun menyuruh anak melakukan kekerasan. Bertemu pasal 15 UU yang sama, salah satu hak anak adalah bebas dari perlibatan dalam aksi kekerasan.

“Merujuk pada larangan dan hak tersebut, bisa dipahami bahwa walaupun ke badan anak-anak dimaksud dikenakan rompi bahan peledak, mereka adalah pihak yang diajak atau dilibatkan oleh orang lain untuk melakukan aksi kekerasan. Juga dapat dikatakan, mereka adalah anak-anak yang tengah dirampas hak-haknya,” kata Reza dalam siaran pers yang diterima VITO.ID di Jakarta, Selasa, 14 Mei 2018.

Dengan demikian, simpul Reza, anak-anak tersebut merupakan korban. Dan karena pihak yang mengajak atau melibatkan anak-anak itu dalam kekerasan adalah orang tua mereka sendiri, maka orang tua tersebut, jika masih hidup, harus dijatuhi pemberatan hukuman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *