Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Kepergian Legita atau Lim Gwat Ni (56) warga Poris Indah, Cipondoh, Tangerang meninggalkan duka yang mendalam di hati keluarga dan sanak saudaranya. Tangis itu pecah saat jenazah Legita di antar ke dalam gereja Paroki Hati Santa Maria Terbekati, Tangerang.

Selasa, 15 Mei 2018 pukul 14.30 WIB, jenazah Liem, panggilan akrab Legita diberkati dalam misa requiem, sebelum dimakamkan. Misa dipimpin oleh Pastor Kepala Walterus Teguh Santosa, SJ dan didampingi Pastor Vincentius Suryatma, SJ, Pastor Stephanus Advent, SJ beserta Frater Harry Yudanto.

Dalam video yang diunggah akun Facebook Paroki Hati Santa Maria Terbekati, tampak puluhan keluarga dan kenalan Legita menghadiri Misa Requiem. Terlihat seorang pria tak kuasa menahan tangis saat mengusung peti ke dalam gereja. Begitu pula setelah Misa selesai, keluarga Legita tak dapat menahan tangis kala memeluk peti jenazah.

Baca: Kisah Haru Saat Misa Requiem untuk Bayu, Martir Dari Ngagel

Mewakili keluarga, dengan beruarai air mata, putera Legita mengucapkan terima kasih untuk dukungan kepada keluarga mereka. Tak lupa juga ia meminta maaf kepada kenalan-kenalan Legita untuk segala hal yang kurang berkenan.

Legita menjadi salah satu korban ledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu, 13 Mei 2018. Tiga gereja yang menjadi sasaran adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuno.

Pesan Janggal

Aan Teja, suami Legita mengatakan, istrinya itu meninggalkan pesan janggal bagi keluarga sebelum pergi ke Surabaya untuk mengikuti pameran.

“Pesan terakhir banget enggak ada. Tapi, pas mau berangkat ke Surabaya memang tiba-tiba istri saya bilang, ‘saya pergi lama sekali enggak seperti biasanya, enggak tau pulang apa enggak’ kayak gitu. Padahal, baik baik aja. Terus dari temannya juga yang ikut, pameran itu cuma dua minggu tapi malah bilang kayak gitu,” kata Aan Teja di kediamannya Blok C No. 267, Rt 06/06 Perumahan Poris Indah, Kecamatan Cipondoh, Tangerang, seperti dilansir Viva.co.id.

Baca: Saat Orang yang Kita Cintai Meninggal, Bolehkah Marah pada Tuhan?

Kepergian Legita meninggalkan tiga anaknya dan seorang suami. Suami Legita yang juga Ketua RT setempat mengatakan, itu adalah komunikasi terakhir dengan istrinya. Sebab, setelah Legita berangkat ke Surabaya mereka tak lagi berkomunikasi.

“Terakhir komunikasi cuma pas mau berangkat saja, seminggu yang lalu. Setelah itu enggak ada lagi. Dia memang bekerja sebagai tim-tim pameran batik yang suka bolak balik ke luar kota,” ujarnya.

Hidup harus jadi berkat

Kepergian Legita juga menjadi kehilangan orang yang pernah mengenalnya semasa hidup. Romo Felix Supranto, SS.CC misalnya, memiliki kenangan tersendiri dengan almarhum. Dalam akun Facebooknya, Romo Felix menulis kenangan terakhir bersama Legita.

Tidak Sia-sia

Pada hari Selasa Malam, tanggal 15 Mei 2018, saya bersama Saudara Huda (Sekretaris Ansor – Banser Provinsi Banten), dan anggota seksi HAAK Paroki Citra Raya Gereja Santa Odilia, datang ke Rumah Duka Oasis Lestari untuk mendoakan Ibu Legita yang meninggal dalam tragedi bom di Gereja Maria Bunda Tak Bercela Surabaya tanggal 13 Mei 2018 yang lalu.

Peristiwa itu sangat mengharukan saya. Saya mengenal Ibu Legita sangat baik ketika saya melayani sebagai pastor di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang. Ibu Legita aktivist di Paroki itu.
Beliau adalah pribadi yang pendoa, baik, sederhana, dan murah hati.

Saya berjumpa terakhir kalinya pada tanggal 08 April 2018 di Cikanyere sebelum Misa Penutup Retret Penyembuhan yang dikoordinir oleh Kelasi Shekinnah. Pada waktu itu, ia baru selesai mengikuti Misa. Ketika melihat saya, ia mendatangi saya di depan Kapela dan berkata : “Romo, masih kenal saya”. Saya menjawab : “Masih kenal dong”.

Kemudian ia mengatakan : “Mo, saya senang sekali bertemu dengan Romo. Doakan agar hidupku terus jadi berkat”. Kemudian ia meminta saya mendoakannya dan keluarganya serta teman-temanya”. Setelah itu, ia meminta foto bersama. Itu photo terakhirnya dengan saya dan pesan terakhirnya “Hidup harus jadi berkat” sehingga terasa sangat bermakna. Satu bulan kemudian, Ia menghadap Allah di pelataran Rumah Tuhan.

Benar hidup dan wafat Ibu Legita telah menjadi berkat. Wafatnya tidak sia-sia karena menjadi semangat bagi kita semua untuk mempererat persaudaraan, kesatuan, dan menghilangkan kekerasan di negeri ini.

Begitu banyak orang hadir dari berbagai agama di Rumah Duka Oasis untuk menyampaikan simpati atas wafatnya Ibu Legita. Banyak air mata berderai ketika memandang peti jenasahnya. Deraian air mata ini mengandung sejuta doa untuk Indonesia yang penuh damai dan rukun.

Selamat Jalan Ibu Legita.

Tuhan Memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *