Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Monic Dewi Andini, istri almarhum Aloysius Bayu Rendra, korban ledakan bom Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, Jawa Timur mengaku sudah memaafkan pelaku teror bom yang telah menewaskan suaminya.

“Saya dan keluarga sudah memaafkan dan tidak ada terbesit sedikit pun untuk marah ataupun dendam,” kata Monic, usai menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-110 di Taman Surya, Kota Surabaya, Senin, 21 Mei 2018, seperti dilansir Antara.

Menurut dia, pihaknya sudah bisa menerima keadaan tersebut dan berdoa kepada pelaku dan seluruh korban supaya mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.

Tragedi yang terjadi, dinilainya, sebagai spirit baru secara pribadi maupun keluarga yang ditinggalkan dan terus berjuang untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh almarhum Bayu.

“Bersatu kembali dan tidak perlu lama bersedih. Mari bersama-sama bangkit untuk memajukan Kota Surabaya dan Indonesia,” kata ibu dua anak yang tinggal di Jalan Gubeng Kertajaya I Nomor 15A Surabaya itu.

Berbeda dengan Monique, anak pertama Bayu, Cornelius Aaron (2) disebutkan kerap mencari keberadaan ayahnya. “Anak kecil pasti ketika lihat foto Papanya dia pasti tanya ‘Papa Bayu dimana?’ gitu,” cerita adik kandung Bayu, Galih Wardhana (33).

Pertanyaan serupa juga terlontar ketika ambulans yang mengangkut jenazah Bayu tiba di rumah duka. “Dia tadi tanya ‘Kenapa Papa Bayu ada di dalam peti? Kenapa diantar ambulans?'” ujarnya.

Galih mengatakan, ia dan keluarga akan selalu jujur dalam menjawab setiap pertanyaan Aaron. Meskipun Aaron belum mengerti apa itu kematian, tapi Galih tetap berusaha menjelaskan bahwa Papanya telah tiada.

“Kami bilang bahwa papanya sudah bersama Tuhan Yesus. Papanya sudah menjadi malaikat,” jelasnya. Meski begitu, Aaron tetap saja bertanya dimana keberadaan Ayahnya hingga jenazah tiba di rumah duka. “Dengan perlahan kami akan selalu sampaikan hal yang sama. Supaya dia tidak merasa terbohongi,” ujarnya.

Galih menjelaskan bahwa ia dan keluarga selalu berusaha jujur dan menjelaskan keadaan Bayu pada Aaron. Meskipun dengan kalimat-kalimat sederhana, mereka ingin menanamkan bahwa mendiang Bayu tidak meninggal sia-sia. “Kami pengen dia tahu Papanya adalah seorang pahlawan untuk sahabat-sahabatnya,” tutur Galih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *