VITO.ID–Menjadi seorang suster bukan sekedar pilihan tapi komitmen. Komitmen itu adalah salib yang harus siap dan berani melawan bahkan membongkar kenyamanan sendiri.

Kemana dan dimana saja kita diutus itu bukan karena semata kepintaran dan kehebatan kita, tapi sebuah perutusan yang menguji kerendahan hati dan keberanian meninggalkan kemapanan dan kenyamanan sendiri. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya sendiri, dan memikul salibnya setiap hari, dan mengikuti Aku” (bdk. Luk 9:23).

Diutus sebagai Misionaris, bahkan di tempat yang paling tidak kita sukai, itu adalah kebijaksanaan dan kehendak Allah, bahwa ditempat lain sekalipun tidak kita sukai; “Membutuhkan Pelayanan Kasih seorang suster”. “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (bdk. Mrk 1:29-39).

Jubah yang engkau kenakan. Ikrar setia dalam Kaul Pertama hingga Kaul Kekal bukan sekedar ritus kebiaraan yang membuat seorang suster sah dan menjadi anggota penuh sebuah tarekat, tapi itu adalah penghadiran kembali penyerahan diri, kemiskinan dan ketaatan Yesus yang wajib dihidupi dan dilaksanakan dalam setiap perutusan seorang suster.

Di saat suara lembutmu mengumandangkan ikrar setia dalam serah diri seumur hidup melalui Kaul Ketaatan, Kemiskinan dan Kemurnian, secara sadar bahwa saat itu engkau bukan lagi hidup untuk dirimu sendiri tetapi engkau sudah menjadi milik Tuhan, Gereja dan seluruh umat yang menyaksikan dan mendengarkan ikrar setia dalam kaul kekalmu seumur hidup.

Bahwa saat itu hanya Tuhan, Gereja dan umat manusia yang harus engkau layani seutuhnya dan bukan diri sendiri, bukan kesenangan dan kenikmatan sendiri yang harus diikuti dan ditaati.

Setiap suster tentu mengalami yang namanya kesulitan dalam membangun hidup bersama. Namun itu tidak serta merta menjadi alasan untuk tidak taat. Dalam kehidupan bersama, tuntutan dan hasrat pribadi untuk diikuti menjadi ujian terberat yang harus dikalahkan untuk diubah oleh sesama komunitas.

Maka setiap kesulitan yang dialami dalam hidup berkomunitas bukan mempersalahkan anggota komunitas yang lain, namun sebaiknya berani dan jujur bahwa akulah penyebab kesulitan hidup berkomunitas.

Kesulitan membangun hidup berkomunitas, pada gilirannya bisa membuat seorang suster untuk menerima perutusan baru di tempat yang baru. Sikap yang selalu muncul adalah melawan perutusan baru di tempat tugas yang baru dan selalu menganggap negatif setiap perutusan yang diberikan, bahwa perutusan itu sebagai sebuah “pembuangan”. Sejatinya tidak demikian.

Ketika kesulitan membangun hidup berkomunitas, membuat seorang suster bisa melihat semua perutusan yang diberikan kepadanya sebagai sesuatu yang negatif. Dari pikiran yang negatif itu akan juga melahirkan sikap dan keputusan yang negatif yaitu keluar meninggalkan biara tersebut dan masuk ke biara lain.

Dengan keluar dari biara yang satu dan masuk ke biara yang lain karena ketidaktaatan menerima tugas perutusan yang baru, maka tidak akan mengubah seorang suster untuk menjadi taat dan rendah hati namun semakin menjadikannya orang sulit di biara yang baru.

Karena, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk 16:10).

Menjadi seorang suster adalah panggilan untuk setia dalam setiap pekerjaan-pekerjaan kecil namun dengan cinta yang luar biasa (Santa Teresa dari Calcuta).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *