Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Ratusan umat Katolik dari Kuasi Paroki Yagai, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika menggelar ziarah Bunda Maria di Danau Paniai akhir bulan Mei lalu. Ziarah bertujuan untuk mengajak umat menjaga dan melestarikan Danau Panai, yang dianggap sebagai tempat sakral oleh suku Mee.

Mee ialah salah satu suku dari 312 suku yang ada di Papua. Suku ini mendiami di wilayah Pegunungan Tengah Papua Bagian Barat

“Digelarnya ziarah itu merupakan cermin keprihatinan karena tidak terawatnya danau Paniai. Dengan ziarah diharapkan upaya melindungi dan merawat danau dari berbagai pihak,” kata Pastor Paroki Quasi Yagai, Pater Santon Tekege, Pr, Minggu, 3 Juni 2018, seperti dilansir tabloidjubi.com.

Menurut dia danau Paniai selama ini dikenal sebagai tempat sakral bagi suku Mee, namun sekarang tidak pernah dirawat dengan baik. Menurutnya, dengan ziarah Bunda Maria masyarakat diajak untuk kembali menjaga dan melestarikan keindahan alam atau keindahan Danau Paniai yang selama ini memberikan nafkah hidup orang Mee.

Kegiatan itu juga sebagai mandat rekomendasi hasil Musyawarah Pastoral Mee (Muspamee) ke VI di Paroki Madi pada April 2017 lalu, yang isinya menjaga dan melindungi apotek-apotek hidup orang Mee, Owaada dan Emaawa, serta tempat-tempat sakral lain.

Tercatat rute ziarah mulai dari Tanjung Deetauwo Bado menuju ke Kaigoo, selanjutnya ke Totiyo, Tuwai-Tuwai, Potaamo dan terakhir di Bobaigo. Sedangkan misa penutup dilaksanakan di Gereja Katolik Yagai.

“Kegiatan itu yang kedua kali kami mulai dari tahun 2017 lalu,” katanya.

Pastor Dekenat Paniai, Pater Marten Kuayo, Pr, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan itu. Ia minta agar ziarah tersebut tidak hanya sekedar dilakukan, namun dapat berjalan terus setiap tahun.

“Misinya bagus. Melindungi dan menjaga air danau dan semua yang ada di dalam danau, agar umat tidak asal ikut lalu melupakan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *