Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Sejumlah gedung tua peninggalan Belanda dan Portugis (Portugal) masih berdiri kokoh di beberapa tempat di DKI Jakarta. Bangunan-bangunan itu rata-rata sudah menjadi cagar budaya dan menjadi daya tarik wisata di ibu kota oleh arsitekturnya yang unik.

Gedung tua itu menjadi bukti sejarah kolonialisme di tanah air. Selain itu, gedung tua juga menjadi catatan sejarah bagi kehadiran agama Kristen yang dibawa Belanda dan Portugis (Protestan dan Katolik Roma) di Batavia.

Di wilayah Jakarta Pusat, tepatnya di Jl H. Samanhudi No. 12, Pasar Baru terdapat sebuah gereja tua yang sering disebut gereja ayam. Disebut gereja ayam karena di atas atap terdapat sebuah penunjuk arah angin yang dibuat berbentuk ayam yang menjadi ikon unik gereja ini.

Gereja ayam merupakan Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB). Jemaat gereja ini disebut PNIEL. Didirikan pertama kalinya pada tahun 1913 dan 1915 oleh dua arsitek, ED Cuijepeers dan Hulswit. Gereja ini bercorak neo-romantik dengan unsur-unsur campuran ghotik dan neo-barok.

Tahun 2015, gereja ayam resmi menjadi warisan budaya bertipe A di bawah naungan Provinsi DKI Jakarta. Meski sudah menjadi cagar budaya, status kepemilikan dan hak perawatan masih tetap dipegang oleh PNIEL.

“Kalaupun ada pemugaran kita harus tetap berkonsultasi dengan tim dari pemerintah DKI,” kata Majelis Jemaat PNIEL, Pdt Adriano Wangkay beberapa waktu lalu.

Berusia sekitar satu abad lebih, gereja ayam tetap berdiri kokoh dengan dua menara kembar di bagian depan. Selain itu masih terdapat benda-benda peninggalan Belanda seperti Alkitab berukuran besar, cawan suci, bejana baptisan, kursi rotan, dan lampu yang dirawat baik.

Alkitab itu kini tidak dipergunakan lagi tetapi sempat diperbaiki pada tahun 1991 di Belanda dan dikembalikan pada tahun 1993. Kini, Alkitab itu disimpan dalam peti kaca yang diletakan di depan mimbar gereja.

“Alkitab itu hadiah dari Ratu Belanda atas pendirian gereja ini kala itu. Jadi kami sebenarnya punya dua yang dijadikan warisan budaya. Satunya gereja dan satunya lagi Alkitab itu,” jelas Pdt. Adriano.

Di Jakarta Utara terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis yang dikenal dengan nama Gereja Tugu. Gereja ini dibangun sekitar tahun 1676-1678 di atas areal 1,5 hektare. Pembangunan gereja ini bersamaan dengan dibukanya sebuah sekolah rakyat pertama di Indonesia oleh Melchior Leydecker.

Sejarah Gereja Tugu tak bisa dilepaskan dengan lokasinya di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Konon, disebut Kampung Tugu karena terdapat sebuah batu ukir yang disebut Prasasti Tugu. Kampung Tugu kini dekat dengan kawasan industri dengan jarak sekitar 5 km dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Gereja Tugu direnovasi pertama kali pada tahun 1773 dibawah pimpinan Van De Tydt, dibantu oleh seorang pendeta keturunan Lisabon, Ferreira d’Almeida dan orang-orang Mardijjkers.

Tahun 1740 kondisi gereja ini sempat hancur. Peristiwa itu terjadi ketika orang Tionghoa (China Onlusten) mengadakan pemberontakan dan terjadinya pembantaian terhadap orang Tionghoa di Batavia pada zaman Gubernur jenderal Adriaan Valckenier berkuasa di Batavia tahun 1737-1741.

Baru kemudian pada tahun 1744, Gereja Tugu dibangun kembali atas bantuan seoang tuan tanah, Yustinus Vinck. Pembangunan kembali gereja ini memakan waktu tiga tahun dan selesai pada 27 Juli 1747. Peresmin setelah dibangun kembali gereja ini dilakukan oleh Pdt J.M Mohr pada 27 Juli 1748.

Meski dibangun oleh orang Portugis (Katolik), Gereja Tugu dikemudian hari diserahkan kepada GPIB. Saat ini, meski terlihat sederhana, kondisi bangunan masih terawat dengan baik meski dinding luarnya terdapat retakan-retakan kecil dengan cat-catnya yang terkelupas.

Di bagian depan, persisnya di samping kiri gereja terdapat makan orang Portugis. Sementara itu lonceng yang berusia dua abad masih digunakan hingga kini. Adapun benda-benda peninggalan Portugis lainnya yakni, bangku diakon antik, piring-piring logam, dan mimbar tua masih terawat baik. Gereja Tugu menjadi cagar budaya tipe A berdasarkan Perda khusus DKI Jakarta tahun 1999.

Gereja Maria de Fatima, Jl. Kemenangan No. 47, Jakarta Barat merupakan Gereja Katolik di kawasan Glodok yang umumnya didiami oleh keturunan etnis Tionghoa. Berbeda dengan dua gereja di atas, bangunan Gereja Santa Maria de Fatima merupakan sebuah rumah bergaya Fukien atau Tiongkok Selatan. Gereja ini masih kokoh dan kuat.

Menurut staf Gereja Santa Maria de Fatima, Idris (60), gereja ini mula-mula dijadikan gereja, sekolah, dan tempat kursus Bahasa Mandarin bagi keturunan China perantau (Hoakiau) di kawasan itu. Tiga misionaris SJ, pastor Conradus Braunmandl (Austria), Zwaans (Belanda) dan Carolus Staudinger (Austria) disebutkan sebagai perintis awal berdirinya gereja Santa Maria de Fatima.

Mereka membeli rumah itu beserta tanahnya seluas satu hektar dari seorang Tionghoa kaya raya bermarga Tjioe yang diberi gelar kapiten oleh Belanda (kapiten pada waktu itu merupakan sebutan bagi lurah) pada tahun 1953.

“Dulu misionaris SJ membelinya untuk dijadikan tempat kursus Bahasa Mandarin bagi orang China perantauan,” kata Idris.

Sebelum menjadi bangunan gereja utuh seperti sekarang ini, rumah kapiten Tionghoa bermarga Tjioe itu merupakan tiga gedung terpisah. Di bagian depan terdapat bangunan melebar dengan sebuah pintu utama yang diapiti empat jendela besar khas Fukien.

Rumah kedua yang terpisah dengan taman kala itu merupakan gedung utama keluarga Kapiten Tjioe. Selanjutnya, sebagai orang kaya raya, gedung ketiga yang mengelilingi gedung kedua merupakan tempat bagi pembantu-pembantunya. Nah, gedung ketiga ini berbentuk huruf U yang kemudian bersambung dengan bagian depan rumah ini.

“Karena umat semakin banyak maka pastor SJ itu kemudian menggabungkan gedung depan dan gedung utama. Sementara gedung ketiga dijadikan rumah pastoran (tempat tinggal pastor) dan ruang administrasi gereja,” jelas Idris yang sudah 20 tahun mengabdi di gereja ini.

Karena merupakan warisan budaya, Gereja Santa Maria de Fatima hampir tidak mengalami perubahan bentuk selain penggabungan tadi. Dua patung singa yang berada di depan gereja masih ditempatkan seperti Kapiten Tjioe. Adapun kayu-kayu rumah juga masih terlihat kuat. “Tidak ada yang berubah selain dikeruk karena banjir,” kata Idris.

Gereja Santa Maria de Fatima hingga kini tetap melayani tradisi ibadah dalam Bahasa Mandarin. Kata Idris, meski jemaat adalah kebanyakan etnis Tionghoa, ibadah dalam Bahasa Mandarin ini hanya dikuti sebagian kecil warga.

Catatan: Tulisan ini merupakan liputan saya saat menjadi wartawan merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *