Ilustrasi--Bahagia itu sederhana, Foto: Google.co.id

Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Pernahkah kita berhenti untuk membandingkan diri dengan orang lain? Pernahkah kita berhenti untuk mengejar kesenangan semata? Bisakah kita bahagia tanpa semua itu?

Bagaimana jika sebaliknya, kita bisa bahagia melalui kesederhanaan dan penuh rasa syukur? Bagaimana jika kita dapat menemukan kebahagiaan dan kepuasan dengan melakukan hal-hal sederhana seperti berjalan-jalan, membaca atau menghabiskan waktu dalam doa?

Dan bagaimana jika kita menikmati kesenangan dengan justru berakhir dengan utang? Bukankah itu mendatangkan stres?

BacaHidup Anda akan Berubah hanya dengan 2 Menit Sehari Baca Injil, Kata Paus Fransiskus

Namun, saya juga memiliki banyak kesuksesan dan berakhir dengan kepuasan dengan mengikuti aturan sederhana berikut:

# Katakan tidak pada hal yang merangsang kita

Dorongan impuls benar-benar tidak lebih dari keinginan untuk bahagia dengan melakukan apa yang dilakukan orang lain. Rangsangan dari luar juga berarti kebutuhan untuk ‘menyelesaikan’ masalah atau mengisi kekosongan yang dirasakan sendiri dalam hidup anda dengan mendapatkan sesuatu.

Saya telah belajar untuk mengenali dorongan-dorongan ini dan berkata, “tidak, saya tidak membutuhkan ini.”

Kadang-kadang, setelah mengatakan “TIDAK” dan meninggalkan toko atau mengklik halaman internet, terlintas di benak untuk menginginkan barang itu. Tetapi biasanya dalam beberapa menit atau jam, saya telah membiarkannya pergi dan menyadari bahwa saya tidak membutuhkannya.

BacaAksi Terpuji Siswa SMA Dorong Gerobak Wanita Pemulung Tua, Awalnya Sederhana

# Hindari keduniawian

Kita cenderung hanya berpikir tentang menikmati hidup. Kadang kita tidak pernah puas. Di satu sisi, Tuhan memberi kita lebih dari apa yang kita butuhkan dan tanpa pertimbangan.

Saya tahu ini dengan baik. Saya belajar bahwa acara, pesta, dan liburan datang dan pergi dengan begitu cepat. Dan tanpa membina hubungan dengan Tuhan, kesenangan itu tidak berkelanjutan dan menjadikan seseorang bahagia.

Dengan membina hubungan dengan, kita dapat belajar menerima dan puas dengan rutinitas dan bahkan perjuangan dalam hidup kita. Kita bahkan menghargai acara, pesta dan liburan, tanpa merasa bahwa hidup kita kosong hal tersebut.

# Berhentilah mengejar tren

Apakah Anda membeli makanan yang dijual online karena benar-benar membutuhkannya tak peduli seberapapun harganya ? Apakah kita selalu mengganti ponsel kita dengan keluaran terbaru karena iklan televisi dan cetak mengatakan Anda akan lebih bahagia dengan itu? Belajar untuk bahagia dan puas dengan apa yang sudah Anda miliki. Dan percayalah pada naluri Anda.

Sadari bahwa saat ini sekarang sudah cukup untuk menjadi bahagia

Seringkali kita memiliki keinginan untuk belanja, sehingga kita dapat mengalami apa yang dialami orang lain. “John baru saja memposting gambar di Facebook tentang dia dan keluarganya di Extreme Adventure Wonderland… Saya juga ingin pergi!” Dan entah bagaimana hidup saya sekarang berkurang karena saya tidak meluncur di seluncur air pada kecepatan 40 mil per jam? Dan sekarang saya (di mana saya sekarang) tidak cukup baik?

BacaPaus Fransiskus Menjawab Anak Muda Soal Tato, Pilihan Hidup, Porstitusi dan Peran Perempuan

Seringkali dalam hidup kita tidak puas atau senang dengan apa yang ada di depan kita. Kembangkan latihan untuk berdoa semakin banyak untuk mengenali bahwa momen saat ini, momen Anda, sudah cukup – semua yang Anda butuhkan ada di sini, saat ini.

Nikmati hal-hal sederhana

Seberapa seringkah kita melihat ke belakang dan merefleksikan hanya untuk menemukan bahwa seringkali ingatan kita yang paling bahagia berasal dari kesenangan yang sederhana? Saya bepergian ke seluruh negara Prancis dan benar-benar menikmati perjalanan, namun hanya memiliki sedikit kenangan yang samar-samar.

Namun, saya ingat dengan jelas saat-saat ketika teman saya Thorsten dan saya akan duduk di dek saya, bertahun-tahun yang lalu, berbicara tentang kehidupan sampai jam-jam larut dengan hanya makanan cepat saji dan kursi taman yang tidak nyaman untuk menemani kami.

Kesederhanaan seringkali menjadi kuncinya. Kita bisa berjalan-jalan, menghabiskan waktu dalam doa, duduk dan membaca buku, menikmati secangkir kopi panas yang mengepul, memainkan musik, bercakap-cakap dengan seseorang (bahkan tanpa makanan cepat saji) atau tidak melakukan apa pun sama sekali.

Berbahagialah dengan siapa dan di mana anda sekarang, dan seringlah berlatih. Untuk beberapa hal itu datang secara alami. Bagi yang lain, mereka harus mengerjakannya. Dan yang paling penting, kenali kapan keinginan dan kecanduan datang untuk menghampirimu.

Berdasarkan tulisan Alan Scott, Happiness With Who and Where You Are Now

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *