Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Mgr Ewaldus Martinus Sedu terpilih sebagai Uskup Maumere yang baru. Puncak acara misa tahbisan Uskup Maumere terjadi pada tanggal 26 September 2018 pukul 15.00 Wita di Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka.

Berikut ini adalah sebuah refleksi seorang beriman Katolik tentang kepemimpinan sakramental Gereja di era demokrasi seperti sekarang ini dan sekaligus sebuah catatan seorang teman kelas atas Rm Ewaldus Martinus Sedu yang dipilih oleh tahta suci menjadi Uskup Maumere.

Refleksi kepemimpinan sakramental adalah perlu mengingat kita baru saja melakukan pilkada untuk melegitimasi kepemimpinan politis suatu daerah dan itu dilakukan menurut kerangka demokrasi.

Dengan demikian, ucapan “habemus episcopum” (kami mempunyai uskup) atas terpilihnya Rm Ewaldus Martinus Sedu oleh tahta suci menjadi Uskup Maumere tidak bermakna politis melainkan sakramental. Kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang uskup adalah kepemimpinan sakramental.

Itu artinya, uskup baru itu mendapat legitimasi kekuasaan untuk memimpin Keuskupan Maumere itu tidak dari umat atau dipilih oleh umat Maumere, seperti kita memilih Gubernur NTT oleh rakyat NTT menurut kerangka “demokrasi” (kekuasaan rakyat), melainkan menurut kerangka “kristokrasi”.

Tantangan kepemimpinan seorang uskup di era demokrasi sekarang ini adalah bahwa umat menuntut demokrasi di dalam Gereja.

Tentang tuntutan demokrasi itu sudah dijawab oleh Yoseph Ratzinger, yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI yang mengatakan bahwa “Die Kirche ist keine Demokratie” (Gereja bukanlah sebuah demokrasi), melainkan, katanya, sebuah “Christokratie” (Kristokrasi).

Gereja tidak bisa dijalankan menurut kerangka demokrasi dalam institusi politik. Menurut Ratzinger, Gereja memiliki tujuan yang berbeda dengan masyarakat politik, karena yang diperjuangkan oleh Gereja bukan sekadar sesuatu yang baik dan bernilai melainkan lebih dari itu, yakni kebenaran Injil Kristus.

Betul bahwa Gereja Vatikan II adalah “Gereja umat Allah”. Namun yang harus diingat di sini adalah bahwa pengertian “Gereja Umat Allah” sama sekali tidak menghapus sifat sakramental dari Gereja, dimana Kristus adalah sakramen dasarnya. Jadi, istilah “Umat Allah” tidak boleh mengaburkan sifat sakramentalitas dari Gereja.

Di dalam sifat sakramentalitas Gereja tidak pertama-tama ditekankan tentang Gereja sendiri melainkan tentang misteri Allah yang menyatakan diriNya melalui Kristus. Karena itu, Gereja hanya berarti sejauh beriman akan Kristus; Gereja hanya berarti sejauh berhubungan dengan Kristus.

Dengan kerangka eklesiologi seperti itu maka jelaslah bahwa demokrasi tidak menjadi prinsip hidup Gereja. Gereja tidak dibangun di atas prinsip demokrasi (kekuasaan rakyat) melainkan di atas prinsip kristokrasi (kekuasaan Kristus).

Karena itu, paham umat Allah di dalam Gereja tidak bisa disamakan dengan pengertian rakyat (demos) dalam institusi politik, sehingga kalau dalam negara ada “kedaulatan rakyat” maka dalam Gereja ada “kedaulatan umat”.

Akan tetapi, meski Gereja bukan institusi sosial-politik, namun Gereja tetap bagaimanapun perlu memperhitungkan sifat-sifat atau nilai-nilai dari institusi sosial itu.

Karena itulah maka kita memang harus menjalankan “kristokrasi” dan bukan “demokrasi”, namun tetap membangun semangat demokratis di dalam Gereja. Suasana demokratis berarti kaum hirarki, dalam hal ini, uskup sebagai kepala Gereja lokal, perlu mendengarkan suara para imam dan umatnya.

Inilah beratnya kepemimpinan sakramental dalam Gereja bagi seorang uskup terpilih, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu sebagai Kepala Gereja lokal Keuskupan Maumere di era demokrasi sekarang ini.

Bagaimana beliau sebagai Wakil Kristus, yang mendapat kekuasaan dari Kristus melalui tahbisan episkopal, juga sekaligus tidak boleh begitu saja mengabaikan nilai demokrasi dari masyarakat modern.

Bagaimana Mgr Ewal, meski tidak dipilih secara demokratis melainkan secara kristokratis, harus tetap bisa membangun suasana demokratis dalam menggembalakan umatnya bersama para pembantunya yakni para imam.

Akan tetapi, pertanyaan ini atau keraguan ini saya dapat menjawabnya, dengan saya memberikan kesaksian sebagai seorang teman angkatan yang mengenal beliau selama hidup bersama di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiert dan selama kuliah di STFK Ledalero.

Romo Ewal adalah seorang pribadi yang tenang dan kata-katanya menyejukan serta selalu merangkul. Ia tidak serta merta memberikan tanggapan atas suatu masalah melainkan selalu dengan tenang berusaha menangkap inti suatu masalah dan berusaha menemukan latarbelakangnya dan baru memberikan tanggapan.

Karena itu, bagi Romo Ewal, tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Sesekali juga beliau “meledak”, tetapi ledakan itu selalu membuat teman-teman mata terbuka dan sadar akan ketidakberesan situasi.

Atas keunggulan kepribadiannya ini maka dulu beliau dipilih menjadi ketua kelas dan Ketua Umum Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Dalam kesaksian saya, keunggulan itu semakin berkembang setelah beliau menyelesaikan Studi Lanjut S2 di Roma dan kembali menjadi Staf Pembina di Seminari Tinggi Ritapiret, sampai akhirnya menjadi Preses Seminari Tinggi Ritapiret merangkap Vikjen Keuskupan Maumere; yang kemudian melepaskan tugas sebagai Preses Ritapiret dan menjadi Vikjen penuh di Keuskupan Mauemere, dan akhirnya terpilih menjadi Uskup Maumere.

Tentang ini saya bisa laporkan, karena ketika beliau mengambil studi lanjut di Roma, pada saat yang sama saya mengambil studi lanjut di Jerman. Beliau kembali studi mengabdi di Ritapiret dan saya kembali mengabdi di Fakultas Filsafat Agama Unwira Kupang (Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang).

Saya semakin mengenal beliau, karena selama ia menjadi pemimpin di Seminari Ritapiret saya sering diundang memberikan materi dalam beberapa pertemuan di Seminari Ritapiret dan pertemuan tingkat keuskupan di Maumere.

Akhirnya, saya mengucapkan proficiat kepada Mgr. Ewaldus Martinus Sedu,Uskup Maumere yang baru, dan juga saya mengucapkan proficiat kepada Mgr. G. Kherubim Pareira, SVD atas ketekunan dan kebaikan hatinya menjalankan tugas kegembalaan selama ini dengan penuh semangat cinta kasih yang merangkul seluruh umat dan seluruh imamnya.

Tak lupa saya menyampaikan terima kasih khusus kepada Mgr. Kheru, guruku dulu di Seminari Kisol, sehingga sekarang saya menjadi seperti ini.

Dr. Phil. Norbertus Jegalus, MA, calong anggota DPD RI 2019-2024

Sumber: Pos Kupang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *