Bernadet Tjia, Foto: Vito.id

Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Bernadet Tjia Sioe Hia Nio hanya duduk termangu di atas kursi roda. Suaranya parau, sesekali menengadah ke luar rumahnya di Jalan Ampera IV No, 20, Pademangan, Jakarta Utara. Wanita berusia 74 tahun ini mengeluhkan rumahnya yang retak gara-gara bangunan empat lantai milik tetangganya berinisial FK.

“Saya tidak tahu harus kemana lagi mengadu. Mungkin hanya tunggu bangunan ini roboh dan saya ikut mati bersamanya,” ujar Bernadet di Jakarta, Senin, 8 Oktober 2018.

Bernadet merupakan janda seorang purnawiraman TNI AD asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Dia mengatakan, FK membangun rumahnya tahun 2016 lalu dengan menggunakan sekitar 14 cm tembok miliknya. Padahal, sebut Bernadet, ia sudah mengingatkan FK agar membangun rumah dengan menggunakan dinding baru, dan tidak menempel ke dinding rumah miliknya. Namun peringatan tersebut tak digubris FK.

“Saya bilang ke dia (FK,) kalau kamu mau bangun silakan buat tembok baru, tapi jangan bobol tembok dinding rumah saya. Kamu kan beli rumah dan rumah itu tidak ada dinding,” ujarnya.

Bernadet TjiaRumah Bernadet Tjia berdampingan dengan rumah FK, Foto: Vito.id

Dia mengatakan selama dua tahun ia dan keluarganya hidup dalam kecemasan gara-gara tembok rumahnya retak dimana-mana. Awalnya, kata Bernadet, ia sempat meminta ganti kerugian untuk memperbaiki rumahnya yang rusak. Namun permintaan tersebut ditolak FK dan malah dituduh melakukan pemerasan.

Bernadet kemudian melaporkan FK tahun 2017 lalu dengan tuduhan pengerusakan ke Polda Metro Jaya dengan bukti laporan LP/3548/VII/2017/Dit. Reskrimum tertanggal 28 Juli 2018. Kasus ini kemudian diserahkan ke Polres Jakut. Namun, hingga satu tahun berlalu status laporan masih dalam penyelidikan.

Mirisnya, diakui Bernadet usaha kos-kosan miliknya terpaksa ditutup dan hanya bertahan hidup dengan dana pensiunan mendiang suaminya yang tak seberapa. Kos-kosan itu terletak di lantai dua di rumahnya. Ia takut rumah itu suatu saat roboh dan memakan korban jiwa.

“Saya sudah tua, kaki saya patah dan duduk di atas kursi roda. Saya tidak bisa lagi pantau kos-kosan. Saya juga takut kondisi seperti ini membahayakan penyewa kos,” kata wanita asal Padang ini.

Kuasa hukum Bernadet, Oktorian Tama mengatakan rumah kliennya mengalami kerusakan karena tidak kuat menampung beban rumah milik FK yang berlantai empat itu. Pada tahun 2016 lalu, keretakan masih sedikit dan relatif kecil. Seiringnya waktu, kata Okto, rumah kliennya malah makin mengalami kerusakan parah.

“Tahun lalu saya foto, lubang retak masih kecil tapi sekarang ini makin melebar. Rumah klien kami tidak mampu menopang beban dari rumah FK yang berdiri juga menggunakan tembok rumah milik klien kami,” kata Okto.

Kondisi rumah Bernadet Tjia penuh dengan keretakan di bagian dalam, Foto: Vito.id

Melalui kuasa hukumnya, Okto, Bernadet kemudian mengadukan hal ini ke Ombudsman RI. Menurut Okto, FK menyalahi aturan saat membangun rumahnya.

“Pertama dia sudah mengabaikan peringatan dari klien kami agar membangun tembok baru dengan fondasi baru dan tidak menggunakan tembok milik klien kami. Alasannya, tembok lapis pertama dan lapis kedua milik pelapor hanya ditopang oleh satu fondasi. Namun FK dengan arogan membangun rumah  dengan tetap menggunakan tembok milik klien kami. Akibatnya tembok bangunan klien kami mengalami keretakan,”

“Kedua, FK menyalahi aturan saat membangun rumahnya. Dalam IMB hanya disebutkan dua lantai tapi ternyata empat lantai. Jadi beban rumahnya ditimpakan ke rumah klien kami dan mengakibatkan keretakan,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *