VITO.ID–Ada banyak cara mengungkapkan salam dalam sambutan resmi para pejabat Indonesia. Biasanya para pembicara mengucapkan salam dari tradisi agama atau keyakinan yang hidup di negeri ribuan pulau ini.

Beberapa ucapan lazim itu di antaranya Assalamualaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera, Namo Budaya, Salam Kebajikan, Om Swastiastu, dan macam-macam.

Ada sebuah kata tidak lazim yang diucapkan Bupati Manggarai DR Kamelus Deno saat meyapa pejabat dari Kepala Badan Pengawas keuangan dan Pembangunan Perwakilan NTT Hasolan Manalu dan rombongan yang melakukan kunjungan kerja ke Ruteng (Kamis, 11 Oktober 2018).

Selain mengucap beberapa salam lazim di atas, suami dari Yenni Veronika –anggota DPRD NTT dari Partai Amanat Nasional– ini menggunakan kata “salve (lat).”

Pria yang lahir pada 2 Agustus 1959 itu menuturkan, ucapan “salve” digunakan Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang saat Pembukaan Sidang Paripurna DPRD Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu.

“Ucapan ini menjadi sapaan khas Orang Katolik, “ ucap pria dilantik menjadi Bupati Manggarai pada 17 Februari 2016 itu.
Apa sebenarnya makna kata “Salve”?

Salve merupakan kata kedua yang paling umum digunakan untuk menyapa dalam bahasa Latin. Dalam sejarah, ucapan Salve ini telah digunakan oleh Gaius Julius Caesar, mantan diktator Romawi (100-44 SM).

Kata ini merupakan ucapan formal untuk menyapa orang yang dijumpai. Salve berarti “salam (to greet), hormat (to salute).” Tidak heran, dalam tradisi militer ada sebutan “tembakan salve.”

Dalam terjemahan Bahasa Inggris “salve” lazim diterjemahkan dengan “hail” dan dalam bahasa Indonesia “salam.” Selain itu, kata ini juga berarti “selamat tinggal atau sampai jumpa” (bye). Jadi, penggunaan kata ini tergantung konteks situasi si pengguna.

Kita juga mengenal istilah ini dalam lagu dan doa-doa berbahasa Latin. Sebut saja lagu “Salve Regina,”. Namun, belum lazim digunakan untuk salam formal atau non formal di Indonesia.

Memang sapaan ini belum lazim digunakan oleh Pejabat Indonesia khususnya yang menganut iman Katolik. Namun, penggunaan kata ini bisa menjadi gejala menarik penggunaan saapan khas agamawi dalam seremoni resmi di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagian kaum muda Katolik bisa jadi belum terbiasa menggunakan kata ini. Dan sekarang, apa susahnya memulai? Salve (sal-ve).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *