Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargens mengatakan apa yang disampaikan Ketua Umum PSI, Grace Natalie terkait Perda Syariah dan Perda Injil merupakan hal yang serius ditelah dalam kaitannya dengan Pancasila. Bagi Boni, pernyataan Grace memantik diskurus terkait pentingnya merawat Pancasila di tengah gempuran kekuatan politis berbau agama.

“Buat saya ini bukan perkara Grace Natalie atau sejenisnya tetapi ini perkara mengingatkan kembali kita tentang pentingnya menjaga Pancasila ke depan” kata Boni usai sebuah diskusi “Memahami Perda Syariah dan Perda Injil dalam Bingkai Pancasila” di Jakarta, Sabtu, 24 November 2018.

“Karena dalam proses politik beberapa tahun terakhir, kekuatan politik yang memiliki sanksi agama sudah menjadi arus baru yang cukup kuat. Dan tren politisasi agama ini, kebangkitan politik identitas ini, bisa pada titik tertentu ke depan bisa menggeser demokrasi Pancasila dengan model yang lain,” sambung dia.

Menurut Boni, Perda Syariah dan Perda Injil merupakan dimamika dalam demokrasi Indonesia sejak 1998. Setiap daerah, terutama dengan mayoritas agama tertentu ingin menerapkan ajaran agama dalam perangkat hukumnya.

Boni mengaku tak mempersoalkan hal tersebut. Hanya saja, kata dia munculnya kekuatan lain yang ingin mengganti Pancasila sebagai landasan utama negara justru menjadi masalah.

“HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) misalnya, mulai berbicara soal anti-demokrasi, mulai bicara soal perlunya Kitab Suci menjadi dasar di dalam merumuskan undang-undang peraturan-peraturan kenegaraan,” katanya.

Alasan itulah menurut Boni mengapa Perda Syariah dan Perda Injili ditolak sebagaimana didengungkan Grace Natalie dari Partai Solidaritas Indonesia.

“Dan di situ wacana Perda Syariah dan Perda Injil kemudian memasuki pusaran diskursus yang sangat serius soal kelangsungan dan masa depan dari ideologi negara, yaitu Pancasila” pungkas Boni.

Pernyataan Grace Natalie soal Perda Syariah dan perda Injil yang berlandaskan agama lainnya menjadi polemik. Pernyataan tersebut memicu komentar dari berbagai pihak hingga desakan agar Grace meminta maaf.

Penolakan PSI terhadap perda bernuansa agama itu dilontarkan Grace saat HUT ke-4 PSI.

“Partai ini tidak akan pernah mendukung perda Injil atau perda syariah, tidak boleh lagi ada penutupan rumah ibadah secara paksa,” ujar Grace di ICE BSD Hall 3A, Tangerang, Minggu, 11 November 2018.

PPMI melalui kuasa hukum Eggi Sudjana melaporkan Grace Natalie terkait dengan pernyataan PSI menolak Perda Syariah. Grace dilaporkan atas dugaan melakukan ujaran kebencian.

Eggi melaporkan Grace ke Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (16/11). Laporan tersebut tertuang dalam Laporan Polisi Nomor LP/B/1502/XI/2018/BARESKRIM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *