VITO.ID–Ketua Umum Pemuda Katolik Indonesia, Karolin Margret Natasa, menyesalkan sikap sejumlah kepala daerah yang melarang masyarakatnya untuk merayakan malam pergantian tahun.

“Menurut saya, pemerintah terlalu latah jika melarang masyarakat untuk merayakan malam pergantian tahun. Karena saya pikir, untuk merayakannya itu adalah hak pribadi setiap masyarakat yang tidak perlu dicampuri oleh pemerintah, selagi dalam pelaksanaannya tidak melanggar norma serta aturan yang berlaku,” kata Karolin, di Ngabang, Minggu, 30 Desember 2018.

Dia mengatakan, memang banyak pertentangan dalam merayakan malam pergantian tahun di tengah masyarakat. Namun, dibalik semua itu, semua tergantung dari pribadi masyarakat untuk mau merayakannya atau tidak.

Dalam hal ini, katanya, pemerintah tidak perlu untuk membuat larangan bagi masyarakat yang ingin merayakannya, karena masih banyak urusan wajib pemerintahan yang perlu diselesaikan, dibanding harus mengurus hal larangan merayakan malam pergantian tahun tersebut.

“Selagi malam pergantian tahun itu dirayakan dengan positif, kenapa mesti dilarang, karena setiap orang pasti mempunyai cara masing-masing untuk memperingati malam pergantian tahun ini,” ujarnya.

Seperti dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga, teman dan kerabat, di mana momentum malam pergantian tahun biasanya justru dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berkumpul dan bersilahturahim selain saat Lebaran, Natal, Imlek dan hari besar perayaan agama lainnya.

“Menurut saya pribadi, dan bukan dalam konteks agama, meski malam tahun baru sama seperti malam biasanya, namun setidaknya ada sedikit perbedaan, yakni suasana dan keinginan agar hari esok lebih baik dari hari sebelumnya. Tetapi itu semua, tergantung dari persepsi di masyarakat luas, ada yang setuju maupun tidak dengan makna malam tahun baru tersebut,” kata Karolin.

Meski demikian, dirinya tidak menampik, ada sebagian orang yang beranggapan negatif terkait perayaan malam pergantian tahun seperti sering terjadinya penyimpangan di kalangan remaja, menghambur-hamburkan biaya, atas terselenggaranya pesta, kemacetan di mana-mana, mulai dari pusat kota hingga kawasan terpencil serta dinas Kebersihan dan petugasnya kewalahan akibat banyak sampah di setiap sudut kota, kemudian rawan terjadi kecelakaan, apalagi bila ada pawai keliling.

“Kita harus tetap menghormati masyarakat yang tidak ingin merayakannya, karena itu juga merupakan hak mereka,” katanya.

Namun, menurut Bupati Landak ini, hal itu bisa dicegah, jika kita semua peduli, khususnya bagi orang tua untuk memberikan pengawasan dan pengertian kepada anak-anak mereka agar bisa merayakan malam pergantian tahun dengan cara yang positif.

“Seperti yang saya katakan tadi, semua tergantung pribadi kita masing-masing,” ujar Karolin.

Selain sudut pandang dari sisi negatif yang harus disadari, maka perayaan malam pergantian tahun juga banyak sisi positifnya. Selain momentum berkumpul bersama keluarga dan kerabat, kita juga harus mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah diberikan kehidupan pada tahun sebelumnya.

“Pada malam pergantian tahun, menjadi saat yang tepat untuk merenungi pencapaian yang didapat selama setahun terakhir, agar tahun berikutnya dapat lebih baik lagi. Kemudian, biasanya malam tahun baru adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama dengan keluarga,” kata Karolin.

Selain itu, dampak untuk masyarakat minor, yakni bertambahnya penghasilan mereka di malam tahun baru. Seperti penjual terompet, penjual minuman di jalan, anak-anak panti asuhan (biasanya ada perusahaan yang merayakannya di Panti Asuhan. Bahkan, bagi pemerintah dan pengusaha juga berdampak besar seperti bertambahnya pemasukan untuk kalangan pengusaha, yaitu tempat rekreasi, hotel, pusat perbelanjaan, juga untuk karyawan itu sendiri, yang biasanya mendapatkan bonus akhir tahun di malam tahun baru.

“Jadi, sekali lagi kami meminta kepada pemda untuk bisa lebih arif dan bijaksana dalam membuat aturan atau larangan bagi masyarakat.Namun, mengingat begitu banyak duka yang terjadi di negara yang kita cintai ini, saya mengharapkan masyarakat bisa bijaksana merayakannya dengan tidak berlebihan dan tidak hura-hura,” kata Karolin yang juga mantan anggota DPR dua periode

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *