Natalia Desiyanti

Magna vis Fidelitatis

VITO.ID–Penyiar Pro 1 RRI Ende Natalia Desiyanti meminta Paus Fransiskus mendoakan Indonesia. Hal itu dilakukannya ketika meliput perayaan Natal dan Tabun Baru di Vatikan, Roma, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, putri kelahiran Ende, 27 Desember 1986, itu lolos seleksi reporter yang diselenggarakan RRI, bekerja sama dengan radio vatikan. Desyanti menjadi salah satu dari 15 wartawan dari seluruh dunia yang diutus untuk meliput perayaan Natal dan Tahun Baru di Vatikan.

Kepada Flores Pos, Desiyanti mengaku tidak pernah bermimpi mendapat tugas untuk meliput di Vatikan. Tetapi, ketika ada proses seleksi, Desiyanti bersedia mengikutinya. Ia lalu meyerahkan semua persyaratan yang diminta, dan mengikuti proses seleksi yang dinilai dari tahap wawancara hingga menulis feature dalam bahasa inggris.

“Saya mengikuti proses seleksi dengan baik dan sempat terkejut ketika saya yang dipilih untuk mewakili jurnalis Indonesia meliput perayaan Natal dan Tahun Baru di Vatikan,” katanya.

Selama di Vatikan, Desiyanti mengalami beberapa kendala, yakni meyesuaikan diri dengan cuaca serta perbedaan waktu dan makanan. Namun, ketiga hal ini menjadi tantangan tersendiri dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

“Suhu di Vatikan sangat dingin. Saya harus menyiapkan semua perlengkapan degan baik. Selain itu, saya harus menyesuaikan diri dengan waktu kerja di Vatikan. Di sana, waktu untuk tidur pun dipakai untuk peliputan, karena bukan saja laporan langsung yang harus dibuat, tetapi juga harus membuat vlog dan menulis feature dari kegiatan yang diliput,” kata Desiyanti, Rabu (9/1).

Mengenai makanan yang dimakan selama di Vatikan, kata Desi, benar-benar makanan yang sehat dan jauh berbeda dari masakan Indonesia. Dan selama di Vatikan, Desi menginap di rumah SVD.

Bagi Desiyanti, menginap di rumah SVD mempunyai kegembiraan tersendiri, karena dapat bertemu dengan imam-iman dari Nusa Tenggara Timur yang memiliki peran luar biasa di Vatikan. Di antaranya, Pater Paul Budi Kleden yang terpilih menjadi Superior General ke-2 Serikat Sabda Allah (SVD).

Selain itu, hal menarik yang tidak akan pernah dilupakan Desiyanti adalah saat Paus Fransiskus menerima ke-15 wartawan yang diutus dari beberapa negara. Saat itu, Desiyanti sempat merasa bingung dan seperti kehilangan rasa percaya diri. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya saat berjabatan tangan dengan Paus. Namun, tiba-tiba kalimat ini muncul dalam pikirannya, “Pray for Indonesia” (berdoalah untuk Indonesia).

Kalimat itu tiba-tiba muncul karena ia membayangkan wajah Indonesia yang semula tersenyum bahagia, tetapi tiba-tiba harus berubah muram dalam duka yang mendalam karena bencana gempa dan tsunami yang melanda negeri ini.

Desiyanti merasa tidak percaya kalau dia bisa berjabatan tangan dan mencium tangan Yang Mulia Paus Fransiskus. Sebab, baginya, melihat Paus dari kejauhan saja sudah sangat membanggakan baginya.

“Saya tidak mau egois. Saya diutus ke sini mewakili Indonesia, dan atas dukungan dan doa keluarga. Melihat situasi dan kondisi di Indonesia yang memburuk karena bencana, saya akhirnya memutuskan memohon kepada Bapa Paus Fransiskus untuk mendoakan Indonesia. Dan saya sangat terharu ketika Paus Fransiskus mendoakan Indonesia pada saat pukul 12.00 siang di gereja St. Anna, Italy, bertepatan dengan doa Angelus,” katanya.

Sumber: Florespos.co

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *